by Dita Ayu Dewi Larassati
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................................i
BAB I
PENDAHULUAN....................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................3
1.3 Hipotesis.....................................................................................................3
1.4 Tujuan.........................................................................................................3
1.5 Manfaat......................................................................................................4
BAB II
KAJIAN TEORI.......................................................................................................5
BAB III
METODE PENELITIAN.........................................................................................9
3.1 Desain Penelitian........................................................................................9
3.2 Lokasi Penelitian......................................................................................10
3.3 Sampel Penelitian.....................................................................................10
3.4 Keterbatasan Penelitian............................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................13
LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia seakan tak bisa lepas dari berbagai penyakit, baik itu penyakit ringan ataupun berat yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit-penyakit itu seperti menghantui manusia dalam berbagai aktivitasnya sehari-hari. Dan tak sedikit diantara mereka yang terserang dan harus berjuang melawan penyakit berbahaya tersebut di sisa hidupnya. Oleh karena itu, manusia harus senantiasa menjaga kesehatannya agar dapat terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya tersebut. Sebut saja salah satu penyakit itu adalah tuberculosis atau yang biasa disebut TBC.
TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberclosa yang menyerang organ pernapasan yang ditularkan melalui udara. Penyakit yang umumnya menyerang daerah tropis ini sangat berbahaya dan bersifat mematikan sehingga diperlukan terapi intensif dalam penangannya. Terlebih bila penyakit ini sudah mencapai tahap akut, maka kemungkinan menyebabkan kematian pun jauh lebih besar. Tak sedikit para pasien yang meninggal dalam tahap terapi pengobatan. Namun, biaya yang pengobatan yang dikeluarkan pun sangatlah besar dan mahal. Sehingga, hal ini sangatlah tidak menguntungkan bagi pasien menengah ke bawah.
Meski TBC dapat diobati dengan perlengkapan medis yang umumnya mengeluarkan biaya yang besar, ada cara lain yang mampu mengobati penyakit ini dengan biaya yang relatif ekonomis dengan menggunakan pengobatan herbal. Pengobatan herbal itu biasanya menggunakan tanaman-tanaman herbal yang umumnya tumbuh di sekitar kita. Tak terkecuali dalam pengobatan TBC ini.
Tanaman yang umum dimanfaatkan adalah pegagan. Tanaman ini berasal dari daerah Asia Tropik, khususnya Asia Tenggara tak terkecuali Indonesia. Tanaman ini termasuk tanaman liar yang sering kita temui di perkebunan, ladang, pematang sawah dan tepi-tepi jalan. Sehingga hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang ingin menggunakan tanaman ini dalam pengobatan penyakit TBC karena tanaman ini sangat mudah ditemukan di Indonesia. Sehingga tingkat keekonomisannya pun menjadi lebih terjamin. Dan sangat menguntungkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Di daerah penulis sendiri, Kalimantan Timur, banyak di temukan tanaman pegagan.
Namun sayangnya, khasiat tanaman pegagan terutama daunnya ini masih kurang tereksplor oleh masyarakat. Sehingga, masih banyak masyarakat yang tidak tahu mengenai tehnik pengobatan herbal dan ekonomis ini. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap daun pegagan sebagai tanaman herbal untuk mengobati penyakit TBC. Penulis berharap, dengan penelitian ini, bisa menambah pengetahuan pembaca mengenai berbagai pengobatan alternatif yang murah dan aman.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan penulis sebelumnya, maka masalah yang dapat penulis rumuskan yaitu sebagai, bagaimana daun pegagan dapat menyembuhkan penyakit TBC?
1.3 Hipotesis
Menurut penulis, tanaman pegagan mampu menyembuhkan penyakit TBC terutama pada bagian daunnya. Karena daun pegagan memiliki kandungan aktif yang berfungsi untuk membunuh bakteri Mycobacterium Tuberclosa hingga ke sumber bakterinya, sehingga dapat menyembuhkan penyakit TBC.
1.4 Tujuan
Setiap penelitian tentunya memiliki tujuan yang jelas sebagai pencapaian akhir dari suatu penelitian, tak terkecuali penelitian kali ini. Tujuan yang dicapai juga menjadi sasaran dari berhasilnya penelitian yang lakukan. Penelitian ini memberikan gambaran kecil mengenai berbagai tumbuhan yang awalnya kita anggap sebagai hama, namun setelah dilakukan penelitian, tumbuhan ini justru memiliki khasiat yang sangat besar bagi manusia sendiri. Dengan adanya latar belakang, rumusan masalah dan hipotesis di atas, penulis dapat merumuskan tujuan sebagai berikut.
1. Untuk menambah pengetahuan masyarakat mengenai pengobatan alternatif yang memanfaatkan daun pegagan.
2. Untuk referensi dalam pengobatan TBC yang murah, ekonomis dan aman.
1.5 Manfaat
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan tercapainya suatu keberhasilan yang nantinya akan berpengaruh bagi kehidupan manusia pada umumnya. Ditemukannya trobosan baru ini tentunya memiliki pengaruh baik jangka pendek ataupun panjang. Berdasarkan latar belakang dan tujuan di atas, dapat penulis uraikan berbagai manfaat dari penelitian ini, yaitu sebagai berikut.
1. Untuk pasien, sebagai bahan pertimbangan dalam memilih jalur pengobatan TBC yang dilakukan, antara pengobatan medis dengan pengobatan herbal berdasarkan data-data dan penjelasan yang diberikan oleh penelitian ini.
2. Untuk ahli farmasi, sebagai bahan referensi dalam mengembangkan obat-obatan jenis baru untuk mengobati penyakit TBC yang berbahan dasar daun pegagan dengan melihat kandungan dari daun pegagan yang akan di sajikan dalam penelitian ini.
3. Untuk pihak masyarakat, sebagai usaha membuka lapangan pekerjaan yang baru, berdasarkan penelitian ini, dapat masyarakat tahu, bahwa daun pegagan memiliki nilai jual yang cukup tinggi, sehingga masyarakat mulai dapat membudidayakan tanaman ini baik dalam skala kecil ataupun besar sehingga usaha ini membantu upaya penuntasan kemiskinan
dBAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia seakan tak bisa lepas dari berbagai penyakit, baik itu penyakit ringan ataupun berat yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit-penyakit itu seperti menghantui manusia dalam berbagai aktivitasnya sehari-hari. Dan tak sedikit diantara mereka yang terserang dan harus berjuang melawan penyakit berbahaya tersebut di sisa hidupnya. Oleh karena itu, manusia harus senantiasa menjaga kesehatannya agar dapat terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya tersebut. Sebut saja salah satu penyakit itu adalah tuberculosis atau yang biasa disebut TBC.
TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberclosa yang menyerang organ pernapasan yang ditularkan melalui udara. Penyakit yang umumnya menyerang daerah tropis ini sangat berbahaya dan bersifat mematikan sehingga diperlukan terapi intensif dalam penangannya. Terlebih bila penyakit ini sudah mencapai tahap akut, maka kemungkinan menyebabkan kematian pun jauh lebih besar. Tak sedikit para pasien yang meninggal dalam tahap terapi pengobatan. Namun, biaya yang pengobatan yang dikeluarkan pun sangatlah besar dan mahal. Sehingga, hal ini sangatlah tidak menguntungkan bagi pasien menengah ke bawah.
Meski TBC dapat diobati dengan perlengkapan medis yang umumnya mengeluarkan biaya yang besar, ada cara lain yang mampu mengobati penyakit ini dengan biaya yang relatif ekonomis dengan menggunakan pengobatan herbal. Pengobatan herbal itu biasanya menggunakan tanaman-tanaman herbal yang umumnya tumbuh di sekitar kita. Tak terkecuali dalam pengobatan TBC ini.
Tanaman yang umum dimanfaatkan adalah pegagan. Tanaman ini berasal dari daerah Asia Tropik, khususnya Asia Tenggara tak terkecuali Indonesia. Tanaman ini termasuk tanaman liar yang sering kita temui di perkebunan, ladang, pematang sawah dan tepi-tepi jalan. Sehingga hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang ingin menggunakan tanaman ini dalam pengobatan penyakit TBC karena tanaman ini sangat mudah ditemukan di Indonesia. Sehingga tingkat keekonomisannya pun menjadi lebih terjamin. Dan sangat menguntungkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Di daerah penulis sendiri, Kalimantan Timur, banyak di temukan tanaman pegagan.
Namun sayangnya, khasiat tanaman pegagan terutama daunnya ini masih kurang tereksplor oleh masyarakat. Sehingga, masih banyak masyarakat yang tidak tahu mengenai tehnik pengobatan herbal dan ekonomis ini. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap daun pegagan sebagai tanaman herbal untuk mengobati penyakit TBC. Penulis berharap, dengan penelitian ini, bisa menambah pengetahuan pembaca mengenai berbagai pengobatan alternatif yang murah dan aman.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan penulis sebelumnya, maka masalah yang dapat penulis rumuskan yaitu sebagai, bagaimana daun pegagan dapat menyembuhkan penyakit TBC?
1.3 Hipotesis
Menurut penulis, tanaman pegagan mampu menyembuhkan penyakit TBC terutama pada bagian daunnya. Karena daun pegagan memiliki kandungan aktif yang berfungsi untuk membunuh bakteri Mycobacterium Tuberclosa hingga ke sumber bakterinya, sehingga dapat menyembuhkan penyakit TBC.
1.4 Tujuan
Setiap penelitian tentunya memiliki tujuan yang jelas sebagai pencapaian akhir dari suatu penelitian, tak terkecuali penelitian kali ini. Tujuan yang dicapai juga menjadi sasaran dari berhasilnya penelitian yang lakukan. Penelitian ini memberikan gambaran kecil mengenai berbagai tumbuhan yang awalnya kita anggap sebagai hama, namun setelah dilakukan penelitian, tumbuhan ini justru memiliki khasiat yang sangat besar bagi manusia sendiri. Dengan adanya latar belakang, rumusan masalah dan hipotesis di atas, penulis dapat merumuskan tujuan sebagai berikut.
1. Untuk menambah pengetahuan masyarakat mengenai pengobatan alternatif yang memanfaatkan daun pegagan.
2. Untuk referensi dalam pengobatan TBC yang murah, ekonomis dan aman.
1.5 Manfaat
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan tercapainya suatu keberhasilan yang nantinya akan berpengaruh bagi kehidupan manusia pada umumnya. Ditemukannya trobosan baru ini tentunya memiliki pengaruh baik jangka pendek ataupun panjang. Berdasarkan latar belakang dan tujuan di atas, dapat penulis uraikan berbagai manfaat dari penelitian ini, yaitu sebagai berikut.
1. Untuk pasien, sebagai bahan pertimbangan dalam memilih jalur pengobatan TBC yang dilakukan, antara pengobatan medis dengan pengobatan herbal berdasarkan data-data dan penjelasan yang diberikan oleh penelitian ini.
2. Untuk ahli farmasi, sebagai bahan referensi dalam mengembangkan obat-obatan jenis baru untuk mengobati penyakit TBC yang berbahan dasar daun pegagan dengan melihat kandungan dari daun pegagan yang akan di sajikan dalam penelitian ini.
3. Untuk pihak masyarakat, sebagai usaha membuka lapangan pekerjaan yang baru, berdasarkan penelitian ini, dapat masyarakat tahu, bahwa daun pegagan memiliki nilai jual yang cukup tinggi, sehingga masyarakat mulai dapat membudidayakan tanaman ini baik dalam skala kecil ataupun besar sehingga usaha ini membantu upaya penuntasan kemiskinan
BAB II
KAJIAN TEORI
Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru walaupun pada sepertiga kasus menyerang organtubuh lain dan ditularkan orang ke orang. Penyakit ini banyak ditemukan di daerah tropis, karena kondisi yang memungkinkan untuk bakteri Mycobacterium Tuberculosis berkembang dengan baik. Penyakit ini juga ditemukan di daerah beriklim subtropis ataupun dingin. Namun lebih banyak kasus, terjadi di daerah beriklim tropis.
Penyakit ini juga salah satu penyakit tertua yang diketahui menyerang manusia. Jika diterapi dengan benar tuberkulosis yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium tuberculosis, yang peka terhadap obat, praktis dapat disembuhkan. Tanpa terapi tuberkulosa akan mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah kasus. Namun, penyembuhan penyakit ini tidak hanya melalui terapi, bisa juga digunakan tanaman herbal seperti daun pegagan. Tingkat kesembuhannya pun tak kalah dari tehnik penyembuhan melalui terapi.
Pegagan (Centella asiatica) adalah tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah. Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, India, Republik Rakyat Cina, Jepang dan Australia kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman ini selain pegagan adalah daun kaki kuda dan antanan. Pegaga (Aceh), jalukap (Banjar), daun kaki kuda (Melayu), ampagaga (Batak), antanan (Sunda), gagan-gagan, rendeng, cowek-cowekan, pane gowang (Jawa), piduh (Bali) sandanan (Irian) broken copper coin, semanggen (Indramayu, Cirebon), pagaga (Makassar), daun tungke (Bugis), buabok (Inggris), paardevoet (Belanda), gotu kola (India), ji xue cao (Hanzi).
Laorpuksa A. dan kawan-kawan dalam penelitian pada 1988 membuktikan, estrak air pegagan dapat melawan bakteri yang menyebabkan infeksi pada saluran napas. Sementara Herbert D. dan kawan-kawan dari Tuberculosis Research Center di India mencoba efek pegagan pada bakteri tuberkulosis H37Rv secara in vitro hingga menghasilkan pegagan tidak langsung berefek pada bakteri tuberkulosis. Berdasarkan penelitian lanjutan, senyawa aktif pegagan itu ternyata dapat melawan Mycobakterium tuberculosis dan Bacillus leprae (Oliver-Bever, 1986). Penelitian berikutnya yang dilakukan Walter H. Lewis juga menyatakan, pegagan termasuk kelompok tanaman yang menghasilkan zat seperti antibiotika dan asiaticoside. Menurut Dr. Anas Subarnas, Dekan Fakultas Farmasi, Universitas Padjajaran, tanaman yang bersifat adaptif itu menghasilkan antibiotik yang aktif melawan baksil tuberkolosis. Pudjawati dkk, peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan dalam Warta Tumbuhan Obat Indonesia, Tanaman pegagan bersifat diuretik, sehingga menyebabkan sering berurine
Menurut Rumphius, pegagan digunakan untuk menyembuhkan luka, sakit perut, obat cacing, dan kencing batu. Menurut Kloppenburg, tumbuhan ini juga digunakan sebagai obat demam, pembersih darah, hemoroid, batuk kering, dan penyakit anak-anak hidung berdarah. Ridley juga menyatakan tumbuhan ini digunakan untuk obat kusta dan sipilis. Penelitian oleh K. Nalini di Kasturba Medical College: ‘Brain Function A’, 1992, menunjukkan bahwa Pegagan menunjang kesehatan memori. Penelitian serupa dilakukan oleh B. Sathya dan R. Uthaya Ganga, dari Govt. Siddha Medical College, Palayamkottai, India. Mereka menguji khasiat serbuk pegagan terhadap IQ anak. Hasilnya, serbuk pegagan terbukti dapat meningkatkan intelegensia. Limabelas anak yang mengalami hambatan mental diberi 500 mg serbuk pegagan selama 1 bulan. Hasilnya, IQ meningkat sampai 4,6%. Semua anak yang mengikuti uji klinis juga lebih berkonsentrasi.
Pegagan yang simplisianya dikenal dengan sebutan Centella Herba memiliki kandungan asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahmic acid, brahminoside, madasiatic acid, meso-inositol, centelloside, carotenoids, hydrocotylin, vellarine, tanin serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka yang sangat luar biasa. Zat vellarine yang ada memberikan rasa pahit.
Berdasarkan berbagai pendapat ahli sebelumnya, dapat penulis simpulkan bahwa daun pegagan memiliki khasiat yang sangat beragam dalam bidang kesehatan. Dimulai dari penyakit ringan hingga penyakit berat seperti kanker. Namun di daerah tropis seperti Indonesia, penyakit yang selalu menghantui masyarakatnya adalah TBC, sedang keberadaan pegagan sangat mudah ditemukan di Indonesia, sehingga untuk mengatasi penyakit ini dapat lebih efisien. Juga khasiat yang dimiliki daun pegagan juga salah satunya adalah untuk menyembuhkan penyakit TBC. Dan banyak bukti yang menyatakan pasien sembuh dengan mengkonsumsi obat herbal ini.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Dengan adanya tujuan peneliti melakukan penelitian, tentunya dilakukan berbagai tahap yang nantinya akan dilakukan oleh peneliti, guna membuktikan khasiat yang dimiliki daun pegagan diantaranya.
1. Peneliti menyiapkan daun-daun pegagan, guna sebagai bahan dasar dari pengujian ini.
2. Daun pegagan dicuci bersih dengan menggunakan air yang mengalir, guna menghilangkan bakteri-bakteri ataupun mikroba-mikroba yang menempel pada daun mengingat tumbuhan pegagan adalah tanaman liar
3. Lalu dikeringkan hingga benar-benar kering selama 2 hari dengan cara diangin-anginkan untuk membuang bahan-bahan yang nantinya akan mengganggu selama dilakukan pengujian sehingga data yang dihasilkan benar-benar valid.
4. Kemudian daun pegagan yang kering, ditimbang kemudian diambil sekitar 100 g untuk di blender hingga halus untuk mempermudah peneliti untuk mendapatkan ekstrasi daun pegagan.
5. Daun kering yang telah diblender kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmayer yang berukuran 1 liter.
6. Rendam daun yang di blender halus tadi dengan etanol sekitar 96% hingga volumenya menjadi 900 mL.
7. Kocok hingga benar-benar tercampur.
8. Lalu diamkan campuran dalam 1 malam hingga campuran mengendap, dengan ini ektrasi kotor akan didapat.
9. Kemudian dipisahkan endapan dengan sisa filter yang tidak mengendap untuk mendapatkan ektrasi murni yang nantinya akan dilakukan uji lab.
10. Hasil ekstrasi kemudian diuapkan dengan alat evaporasi bila ada.
11. Kemudian akan didapat ekstrasi yang kental, nah ektrasi inilah yng nanatinya akan di uji dengan mengguanakan alat pengujian yang tersedia.
12. Terakhir lakukan pengujian dengan dibantu pembimbing. Pada tahap ini, pengujian dilakukan dengan teliti, aman dan baik agar hasil kandungan dari daun pegagan yang didapatkan itu valid.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di labaratorium kimia milik SMAN 10 Samarinda dengan pengambilan bahan di sekitar wilayah Samarinda dengan keadaan laboratorium yang sepi dan tenang juga penelitian dilakukan dengan pengawasan dari guru pembimbing dan pengawas laboratorium. Penelitian dilakukan sekitar bulan Juni 2013.
3.3 Sampel penelitian
Peneliti menggunakan berbagai sumber sebagai sampel yang digunakan untuk mendukung berhasilnya penelitian ini yang dilakukan sekaligus menjadi titik tolak selama penelitian diadakan, diantaranya.
1. Wawancara. Peneliti kelak akan melakukan wawancara dengan pasien penyakit TBC yang sembuh setelah menggunakan alternatif daun pegagan. Hilal Ahmar, seorang bocah dari Sunda yang menderita penyakit TBC menjadi sembuh total setelah mengkonsumsi daun pegagan setelah ayahnya tidak berani membawanya ke rumah sakit dikarenakan usianya yang masih tergolong usia balita.
2. Data rekam berupa pengujian klinis yang dilakukan pada daun pegagan untuk mengetahui kandungan dan khasiatnya yang dapat menyembuhkan penyakit TBC. Peneliti nantinya akan diawasi dan dibimbing oleh para ahli di bidangnya dalam melakukan pengujian guna mengurangi tingkat kecelakaan selama penelitian
3. Sumber-sumber referensi, berupa buku ataupun Internet sebagai panduan untuk mendukung dan pelengkap bagi peneliti untuk melakukan penelitian.
3.4 Keterbatasan Penelitian
Mengingat berbagai kendala yang mungkin akan terjadi selama penelitian dilakukan, peneliti memperkirakan berbagai kerterbatasan yang membatasi penelitian diantara:
1. Keterbatasan jarak, tentunya ini terjadi karena peneliti akan melakukan wawancara dengan seorang pasien TBC yang sembuh yang berlokasi di daerah sekitar Jawa Barat, sedang lokasi penulis sendri berada di Kalimantan Timur, hingga kecil kemungkinan peneliti dapat melakukan wawancara tersebut. Tentunya untuk mengatasi hal ini, peneliti mencoba mencari pasien TBC yang sembuh dengan megkonsumsi daun pegagan di wilayah Kalimantan Timur terutama di daerah Samarinda dan Penajam Paser Utara, walau kemungkinan ditemukannya sangatlah kecil.
2. Keterbatasan alat, tentunya ini juga menjadi alasan terhambatnya penelitian yang peneliti lakukan, dikarenakan dibutuhkannya peralatan laboratorium yang lengkap agar peneliti dapat melakukan pengujian laboratorium dengan hasil yang valid, sedang kondisi alat laboratorium SMAN 10 Samarinda masih belum memadai dan belum mampu untuk dapat melakukan pengujian seperti yang diharapkan peneliti.
3. Keterbatasan pembimbing, sulit untuk menemukan pembimbing yang nantinya mau membantu peneliti dalam melakukan pengujian, karena diperlukan pembimbing yang benar-benar ahli yang membimbing peneliti untuk dapat melakukan pengujian dengan aman dan benar.
4. Keterbatasan sumber, sangat sulit untuk menemukan sumber-sumber mengenai khasiat dan manfaat daun pegagan, terutama sumber dalam bentuk buku.
5. Keterbatasan waktu, mengingat sekolah penulis sangatlah disiplin waktu sehingga tidak memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian diluar sekolah membatasi penulis, penelitian yang memerlukan waktu dan proses yang lama ini menjadi terbatas dengan waktu yang dibatasi dari pihak sekolah maupun asrama.
6. Keterbatasan biaya, melihat penelitian yang dilakukan memerlukan biaya yang besar mencakup sampel ataupun pada tahap pengujian.
DAFTAR PUSTAKA
http://pasca.unand.ac.id/id/wp-content/uploads/2011/09/PENGARUH-PEMBERIAN-EKSTRAK-DAUN-PEGAGAN-CENTELLA-ASIATICA-L-URBAN-TERHADAP-KADAR-HORMON-ESTRADIOL-DAN-KADAR-HORMON-PROGESTERON-TIKUS-PUTIH-RATTUS-NORVEGICUS-BETINA.pdf
http://thibbunnabawi.wordpress.com/2007/11/22/khasiat-pegagan-dari-penumpas-tbc-sampai-peningkat-daya-ingat/
http://thibbunnabawi.wordpress.com/2007/11/22/khasiat-pegagan-dari-penumpas-tbc-sampai-peningkat-daya-ingat/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar